*Selamat Datang Di Situs Resmi STIT Al Qur'an Al-Ittifaqiah Indralaya*
Home 50 Opini 50 Pendidikan (Tanpa) Beretika

Pendidikan (Tanpa) Beretika

‘Manusia itu tidak akan menjadi ma­nusia yang hakiki, kecuali dengan pen­didikan.” Itulah kata Mu­hammad Abduh.

Tidak ada yang memungkiri bahwa pendidikan itu penting untuk membentuk manusia, termasuk di Indonesia ini. Masalahnya, dari ta­hun ke tahun, produk yang dihasilkan oleh pendidikan Indonesia, masih perlu diper­tanyakan. Anda tentu masih ingat dengan kasus bully yang terjadi di sekolah dasar di Sumatera Barat. Anda tentu tidak akan lupa de­ngan tawuran-tawuran yang dila­kukan oleh para pelajar di Jakar­ta dan berbagai dae­rah lainnya.

Kemudian, Anda juga mung­­­kin pernah menyaksikan sebuah photo yang beredar luas di dunia maya, dimana guru sedang mengajar di depan kelas (sepertinya se­ting­kat SMA), ke­mu­­dian para mu­ridnya asyik dengan kegia­tannya masing-ma­sing. Ada yang tiduran, ada yang main smar­t­phone, dan ada yang leyeh-leyeh, tanpa mem­perhatikan sama sekali pe­nyampaian gurunya.

Dan belum lama ini, ter­sebar berita di dunia maya di ber­­bagai media on­line tentang beberapa anak perempuan berjilbab yang pesta miras dan merokok di dalam angkot, yang di bagian bela­kang angle photonya ada tu­lisan tauhid (laa ilaha illallah). Jika­lau diruntut lebih jauh, tentu masalah dan kasus produk pendidikan Indonesia ini, lebih banyak lagi.
Pendidikan yang berjalan di negeri ini belum mampu membuat anak-anaknya menja­di manusia dalam artian yang sebenarnya, yang mengenal ilmu dengan baik namun dengan etika yang tinggi. Malahan, semakin “bergengsi” nama kurikulum yang dia­jarkan, anak-anaknya semakin kehilangan etikanya.

Guru yang dalam kese­hariannya dikenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa, tidak lagi mendapatkan peng­hormatan selayaknya dari para muridnya. Bahkan, kerapkali diremehkan dan diacuhkannya, layaknya pembantu yang dibayar tiap bulannya oleh majikannya. Mereka tidak lagi memposisikan guru itu sebagai insan yang mulia, yang layak mendapatkan segala bentuk penghormatan karena ilmu yang dimilikinya.

Jikalau diflash back ke zaman dahulu, ditengah keter­batasan sarana-sarana pen­didikan, orang-orang tetap memposisikan guru dengan posisi yang terhormat. Jikalau bertemu, disapa. Jikalau sakit, dibezuk. Bahkan, jikalau ia marah, maka para murid akan menerimanya dan tidak berani membantahnya.

Sekarang, justru sebaliknya, jikalau seorang murid bertemu dengan gurunya di jalan, maka ia mengabaikannya saja seolah-olah tidak kenal. Bahkan, tidak ada lagi rasa segan kepada gurunya. Jikalau ada rokok, maka ia akan mengeluarkannya dan sengaja menya­lakannya di hadapan kedua mata gurunya. Jikalau anak ini dinasehati atau diberikan sedikit “pelajaran”, maka Hak Azazi Manusia (HAM) akan lansung dijadikan tameng.

Membentuk Manusia Indonesia Beretika

Kata Muhammad Quthb, pendidikan adalah Fann Tasykil al-Insan (seni membentuk manusia). Yah, ia adalah seni bagaimana membentuk ma­nusia yang baik dan beretika, berilmu namun beradab. Dalam konteks ke In­donesiaan, gagalnya pendidikan etika ini, saya rasa bisa dilihat dilihat dari dua sisi:

Pertama, Penga­jarnya. Saya tidak meragui ada guru yang ikhlas men­didik anak-anaknya, dan kenyataannya guru seperti inilah yang berhasil membuat anak mu­ridnya menjadi sosok yang sukses di masa depan. Na­mun, ada juga guru yang mengajar itu hanya untuk mengejar materi belaka. Baginya, yang penting pela­jaran tersampaikan, dite­rima atau tidak diserahkan kepada para muridnya.

Tidak ada ketulusan agar para muridnya menjadi manusia yang sukses dan beretika. Ia hanya men­transfer ilmu (Transfer of Knowledge) namun tidak mentransfer etika dan kepri­badian (transfer of personality). Kesejahteraan guru itu penting, dan ini adalah tugas pemerintah untuk memperha­tikannya. Namun, jangan sampai masalah ini merusak ketul­usan seorang guru men­­­­ja­­­­lan­kan kewajibannya kepada para muridnya.

Kedua, Lingkungan. Kata Ibn Khaldun, “ar-Rajulu Ibn Biatihi (seseorang itu anak lingkungannya). Lingkungan yang didiami oleh seorang anak harus diperhatikan dengan baik. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak beretika, walaupun gurunya sudah berca­pek-lelah mengajarkan etika, maka ia tidak akan mampu be­retika dengan baik. Namun, jikalau ling­kungannya baik, walaupun gurunya tidak begitu baik me­ngajarkan etika, maka ia tetap akan tampil dengan etika yang mulia.

Media juga harus diper­hatikan. Di za­man yang serba cang­gih ini, berbagai tontonan dan video tidak layak, ba­nyak ditonton oleh anak-anak yang belum layak untuk me­non­tonnya. Tayangan-tayangan itu bu­kannya mendidik para penon­tonnya menjadi sosok yang lebih baik, baik dari segi ilmu maupun dari segi etika, malah mem­buatnya sema­kin buruk. Jikalau Anda meng­­hidupkan te­levisi, ke­mudian Anda men­dapati tayangan kekerasan dan se­jenisnya yang tidak layak diton­ton, maka matikan saja. Anda tidak usah menon­tonnya. Jangan merusak pikiran kelua­rga Anda dan anak-anak Anda dengan ton­tonan seperti itu.

Inilah yang harus di­re­nungkan dalam kehidupan berbangsa. Generasi muda harus diselamatkan. Mereka adalah asset masa depan bangsa. Jikalau mereka tum­buh dengan keadaan yang tidak mengenal etika, maka lama-kelamaan bangsa ini akan berubah menjadi bangsa yang “bejat”. Ya, bangsa yang “bejat”.

Arifandi Pakih Sati
Studi Pascasarjana Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga
HALUAN, 12 November 2014
Sumber: http://www.widiyanto.com

5 comments

  1. My spouse and i have been now more than happy when Raymond could finish up his researching from your ideas he made from your very own web page. It’s not at all simplistic to simply continually be giving away solutions which often many people may have been making money from. Therefore we figure out we have the blog owner to appreciate for that. Those illustrations you have made, the simple website navigation, the friendships your site assist to engender – it is everything fantastic, and it’s really leading our son in addition to our family feel that this theme is amusing, and that is really important. Many thanks for all!

  2. I just wanted to make a quick word in order to appreciate you for all the nice instructions you are showing here. My extended internet research has at the end of the day been honored with wonderful concept to share with my friends and family. I would repeat that many of us site visitors are rather lucky to live in a really good community with many lovely professionals with useful techniques. I feel somewhat blessed to have come across your site and look forward to so many more awesome moments reading here. Thanks again for all the details.

  3. I would like to voice my gratitude for your kindness in support of men who absolutely need help with in this content. Your special dedication to passing the message around appears to be especially interesting and have without exception made some individuals like me to attain their desired goals. Your new important tutorial entails this much a person like me and far more to my office workers. Regards; from each one of us.

  4. I have to show my love for your generosity for people who must have help with this particular question. Your special dedication to passing the solution around appeared to be extremely helpful and have always enabled women just like me to attain their pursuits. The invaluable tips and hints means this much to me and much more to my office colleagues. With thanks; from each one of us.

  5. I precisely wanted to appreciate you again. I am not sure the things I would’ve undertaken without the actual points documented by you regarding this concern. It has been a frightful case for me, however , viewing your expert technique you resolved that made me to weep with happiness. I will be happier for your service as well as have high hopes you comprehend what an amazing job that you are getting into teaching many others with the aid of your website. I know that you have never encountered all of us.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Scroll To Top